Antara Din Syamsuddin Dan Muhammadiyah Tentang Syiah

Komunitas Muhammadiyah adalah komunitas serba ada, terutama yang berbasi pada pendidikan telah menjadi arena tersendiri di Muhammadiyah, dengan tidak melihat back ground orangnya berasal dari mana, yang penting memberikan manfaat pada Muhammadiyah. Tentu hal ini merupakan kelalaian Muhammadiyah atau kurangnya instropeksi di dalam tubuh Muhammadiyah, terlalu vulgar membuka pintu ijtihad sehingga berakibat tidak sensor terhadap perkembangan Muhammadiyah.

Menganut prinsip tajdid Muhammadiyah, sejak berdirinya Muhammadiyah sangat anti dengan pola pikir yang kontradiksi dengan Quran dan Sunah, bahkan menolak dengan tegas masalah masalah yang bertolak belakangan dengan keduanya. Dan Muhammadiyah adalah sebuah ormas Persyarikatan, kolektif dalam menentukan dan mengambil keputusan, bukan tertumpuh pada tokoh atau pimpinan tertinggi. Segala yang ditentukan Muhammadiyah berdasarkan kolektif, bukan sepak terjang perorangan. Sebagaimana pendapat pendapat Dein tentang Syiah, lebih pada koleksi keilmuan Dein tentang agama, terlebih sejak awal bukan bergulat dalam permasalahan agama, tetapi partai politik, dalam hal ini Golkar.

Tentu pengetahuan Din tidak bisa dilepaskan dari konsep sebagai politisi Litbang Golkar di masanya. Telaah kritis pasti ada, tetapi lebih pada pola berpikir agama yang humanis, bukan pada agama yang transindental uluhiya, melainkan bersifat fiqiyah belaka. Telaah berpikir intelektual semacam Dein akan menempatkan Dein hanya sesuai bidangnya. Tidak mungkin bisa berpikir saklek sesuai disiplin agama Islam. Tidak bisa membahas Muhammadiyah dari sudut pandang Dein Syamsudin pribadi, meskipun sebagai ketua.

Ada jurang pemisah yang sangat dalam antara Muhammadiyah dan Syiah, baik Aqidah dan Ibadah, maka kalau ada sosok orang di Muhammadiyah, seperti Din Syamsudin yang tampil beda dengan putusan Muhammadiyah, sudah pasti itu tak akan pernah di tolerer oleh Muhammadiyah. Pada intinya Din Syamsuddi itu hanya sosok pemimpin yang harus menjalankan amanat persyarikan, sedangkan hal hal yang diluar persyarikatan , pendapat itu adalah tanggung jawab Din pribadi.

Syiah di Mata Muhammadiyah

Muhammadiyah punya landasan berhujjah yang jelas tentang syiah, menolak semua prinsip prinsip Syiah yang berkaitan dengan Aqidah dan Ibadah yang bertentangan dengan Quran dan Sunah. Tak ada pembenaran Muhammadiyah terhadap caci maki syiah yang dilancarkan pada shahabat shahabat nabi. Tak ada toleransi Muhammadiyah terhadap sikap ghuluw Syiah, yang menempatkan Ali dan Imam ke dua belas Syiah lebih tinggi kedudukannya dari Allah dan nabi. Muhammadiyah sejak awal berdiri sebagai penjaga gawang anti kemusyrikan, tidak layak dan tidak halal kalau kemudian membiarkan kesyirikan merebak di mana mana. Berlebihan menyanjung nabi dan shahabat, bukanlah sikap Muhammadiyah, apalagi bila menempatkan para keluarga Rasulullah pada tempat yang tidak layak, jelas sangat betentangan dengan Risalah Tawhid yang di bawa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Sedangkan pandangan Din Syamsuddin menempatkan syiah sebagai Mazhab ke lima dan memandangnya sebagai ikhtilaf umat, itu sama saja dengan dengan pecahan agama kristen yang memandang “Saksi Yahova” sebagai agama tersendiri, yang tidak terkait dengan keberadaan Kristen yang trinitas. Baik Khatolik atau Protestan sama sama menerima trinitas sebagai agama mereka, sedangkan “saksi Yahova” yang menolak konsep trinitas disebut murtad dari agama mereka. Demikian juga dalam agama Islam yang sejak awal tidak mengajarkan konsep ghuluw, berlebihan dalam agama, tidak bisa menerima bentuk bentuk ghuluw apappun, terlebih kalau merusak aqidah, jelas Islam meniadakan kata Islam dari orang bersangkutan.

Sedangkan refleksi pemikiran Dein Syamsuddin sangat terkait kepentingan politis, sekalipun disisi lain sangat merugikan Muhammadiyah yang membangun dakwa ila attawhid. Meskipun dalam teori Muhammadiyah hanya cukup dengan mengatakan “MENOLAK”, pada intinya gerakan Muhammadiyah tidak bisa menerima anggapan atau pendapat yang berlawanan dengan Quran dan sunah. Maka jawabannya adalah alQuran dan sunah sebagai penjabaran terhadap penolakan Muhammadiyah. Artinya Dein Syamsuddin yang sumbang menyuarakan Syiah sebagai bagian dari Islam bukanlah suara Muhammadiyah yang lantang penolakannya terhadap syiah dan ajarannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s