Arsip Kategori: Sejarah Syi’ah

Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 2

Zaidiyah Lebih Dekat Kepada Sunni

Dari sini, meski terhitung sebagai salah satu madzhab Syi’ah, Zaidiyah memiliki banyak kesamaan dengan Ahlusunnah daripada kesamaan mereka dengan Syi’ah, yang terkadang sulit untuk membedakan antara salah seorang dari mereka dengan pengikut Ahlisunnah. Saya (dr Raghib) telah berinteraksi dengan mereka di Yaman, ternyata mereka sangat menghormati dan memuliakan para sahabat, mereka shalat dibelakang orang-orang sunni di masjid yang sama, mereka tidak memiliki bid’ah-bid’ah seperti yang dimiliki oleh Syiah Itsna ‘Asyariyah yang cukup dikenal, seperti yang telah kami jelaskan di makalah sebelumnya, yaitu“Ushul As Syi’ah” dan “Saitharah As Syi’ah.”

Bahkan diantara mereka terdapat beberapa ulama’ agung yang menjadi rujukan para penuntut ilmudari kalangan Ahlusunnah, semisal Imam AsSyaukani, penulis kitab “Nail Al Authar” dan seorang pengikut Zaidiyah Yaman.

Lanjutkan membaca Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 2

Iklan

Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 1

Kota di Yaman

Yaman merupakan salah satu negara besar, yang telah menyumbangkan kekuatan penting terhadap Islam sejak masa awal agama ini. Masyarakat Yaman masuk Islam pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berbondong-bondong, mereka memiliki andil besar dalam perjalanan ummat islam, bahkan para pahlawan dan mujahid-mujahidnya memiliki tanda khusus dalam futuhat Islamiyah (pembebasan negeri-negeri). Diantara peran besar mereka dalam pembebasan negeri-negeri adalah kesungguhan mereka yang sangat luar biasa dalam pembebasan negeri Syam, Mesir Afrika Utara, Andalusia dan negeri-negeri lainnya.

Partisipasi masyarakat Yaman tidak hanya sekedar peran mereka dalam pembebasan-pembebasan negeri saja, namun mereka juga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan ilmu dan Ulama. Betapa banyak para ulama yang bersafar ke Yaman untuk mendapatkan ilmu dari para ulama dan pemikir mereka. Bukankah hal itu ditunjukkan oleh kepedulian Imam Ahmad, meski dalam keadaan yang sangat kekurangan, beliau tetap mengadakan perjalanan ke Yaman dalam rangka menyempurnakan penelitian ilmiahnya disana,hal ini memaksa beliau untuk melakukan perjalanan dari Baghdad menuju Yaman dengan berjalan kaki. Dengan kesulitan seperti ini, beliau lakukan tidak lain hanya karena suatu hal yang sangat penting, yaitu untuk melengkapi beberapa ilmu yang beliau miliki.

Lanjutkan membaca Sejarah Masuknya Syiah Zaidiyah ke Yaman Bag. 1

Membongar Kerapuhan Pondasi Agama Syiah

Syiah, sebagai sempalan dalam Islam yang kini terus melahirkan masalah yang tidak berkesudahan. Karena itu, para ulama, intelektual, hingga cedekiawan Islam, khususnya Ahlussunnah terus-menerus melakukan berbagai macam upaya dalam menangkal penyesatan yang dilakukan penganut Syiah secara terorganisir, simultan, dan sporadis.

Berbeda dengan sempalan lainnya dalam Islam. Syiah adalah satu-satunya aliran sesat yang kesesatannya dapat eksis, awet, bahkan tumbuh dan terus berkembang. Aliran Mu’tazilah misalnya, hanya bertahan beberapa abad saja, dan setelah itu terkubur dalam kubang sejarah. Sedang Ahmadiyah, secara resmi di beberapa negara, seperti Pakistan telah menjadi agama mandiri dengan “Tazkirah” sebagai kitab sucinya, dan “Mirza Ghulan Ahamd” sebagai nabinya.

Ada pun kasus Syiah, mereka sungguh rumit. Namun secara umum, dapat dipetakan masalah utamanya, kenapa mereka bisa eksis dari masa ke masa.

Pertama. Syiah memiliki sejarah panjang, dengan pengalamannya menguasai suatu negara, atau daulah selama berabad-abad, termasuk saat ini, Iran sebagai pos kekuatan dan kekuasaan mereka.

Kedua. Kedudukan Iran sebagai negara yang memegang peranan penting di dunia Islam khususnya Timur Tengah, bermula pasca lahirnya revolusi Iran di akhir tahun 1979 yang berhasil melahirkan tokoh utama bernama Ayatollah Khomeini. Sejak saat itu, Khomeini terus menerus melakukan ekspansi pada negara-negara Ahlussunnah, memperkenalkan Syiah dengan berbagai tipu daya dan kebohongan. Banyak yang terkecoh, termasuk pemerintah dan masyarakat Indonesia yang terus menerus melakukan kerjasama dengan cara mengirim para pelajar ke Iran, dan pada saat yang sama, Ayatollah bertebaran di Indonesia melakukan penyesatan.

Lanjutkan membaca Membongar Kerapuhan Pondasi Agama Syiah

Mengenal Syiah Rafidhah dan Pencetusnya

Apa itu Syi’ah Rafidhah
Orang yang pertama kali mencetuskan agama Rafidhah adalah Abdullah bin Saba, salah seorang Yahudi dari Yaman. Dia pura-pura masuk Islam, kemudian dia mendatangi Madinah Nabawiah pada zaman khalifah ar-rasyid Utsman bin Affan radhiallahu anhu.
 
Mereka dinamakan Rafidhah dikarenakan mereka رَفَضُوْا  (menjauhi/menolak) Zaid bin Ali ketika mereka meminta Zaid untuk berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar, akan tetapi beliau justru mendoakan rahmat untuk mereka berdua. Maka mereka berkata, “Kalau begitu kami akan menjauhi kamu.” Maka Zaid berkata, “Pergilah, karena kalian adalah orang-orang yang dijauhkan.” Dan ada yang berpendapat bahwa mereka dikatakan Rafidhah karena mereka menolak Abu Bakr dan Umar. (Lihat Siyar A’lam An-Nubala: 5/390 dan Majmu’ Al-Fatawa Ibnu Taimiah: 4/435).
 
Syaikh Al-Islam juga berkata masih pada tempat yang sama, “Asal mazhab Rafidhah adalah dari kaum munafiq dan zindiq, karena mazhab ini dimunculkan oleh Abdullah bin Saba` sang zindiq. Dia menampakkan pengkultusan yang berlebihan terhadap Ali dengan klaim bahwa Ali adalah imam dan menyatakan ada nash dari Nabi akan hal itu.”
 
Ibnu Abi Al-Izz rahimahullah berkata dalam Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiah hal. 490, “Asal mazhab Rafidhah tidaklah dimunculkan kecuali oleh seorang munafiq lagi zindiq yang bertujuan untuk menghapuskan agama Islam dan mencela Ar-Rasul shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang para ulama sebutkan. Hal itu karena tatkala Abdullah bin Saba` sang Yahudi pura-pura masuk Islam, dia berniat dengannya untuk merusak agama Islam dengan makar dan kebusukannya, sebagaimana yang dilakukan oleh Bulis terhadap agama Nashrani. Maka Abdullah bin Saba` pura-pura rajin beribadah, kemudian dia mengobarkan secara berlebihan semangat amar ma’ruf dan nahi mungkar, sampai akhirnya dia berusaha untuk memfitnah dan membunuh Utsman. Kemudian, tatkala dia mendatangi Kufah, dia menampakkan pengkultusan dan pembelaan yang berlebihan terhadap Ali, agar dia bisa berhasil meraih tujuannya. Hal itu kemudian sampai ke telinga Ali, maka beliau mencarinya untuk membunuhnya, akan tetapi dia melarikan diri ke daerah Qirqis. Dan kisah Abdullah bin Saba` ini masyhur dalam buku-buku sejarah.”
 
Imam Ath-Thabari dalam Tarikhnya (4/340) dan Ibnu Al-Atsir dalam Al-Kamil (3/77) menyebutkan bahwa Abdullah bin Saba` adalah seorang Yahudi dari negeri Shan’a, Yaman. Bahkan Ath-Thabari menyebutkan kalau sahabat Abu Ad-Darda` juga menyatakan kalau dia adalah seorang Yahudi. Asy-Syahrastani berkata dalam Al-Milal wa An-Nihal (1/204), “As-Saba`iah adalah para pengikut Abdullah bin Saba`, orang yang berkata kepada Ali, “Anda, anda,” maksudnya: Anda adalah sembahan, maka Ali mengusir dan mengasingkannya. Para ulama menyatakan kalau dia dulunya adalah seorang Yahudi lalu dia masuk Islam. Dan dalam agama orang-orang Yahudi, ada orang-orang yang mengkultuskan Yusya’ bin Nun penerus wasiat Musa alaihimas salam, seperti pengkultusan terhadap Ali radhiallahu anhu. Abdullah bin Saba` inilah orang yang pertama kali memunculkan kabar adanya nash kekhalifahan untuk Ali radhiallahu anhu, dan darinyalah berasal kelompok-kelompok yang ekstrim dalam masalah ini. Abdullah bin Saba` menyatakan kalau Ali itu hidup dan tidak mati…,” dan seterusnya dari keyakinannya terhadap Ali.
 

Lanjutkan membaca Mengenal Syiah Rafidhah dan Pencetusnya

Syiah Zaidiyah Dahulu dan Kini, Masihkah Bagian Ahlu Sunnah..?

Penjelasan Ulama Mengenai Syi’ah Zaidiyah
Penjelasan Ulama Mengenai Syi’ah Zaidiyah
Belakangan, ketika orang membahas kesesatan syiah. Syiah Zaidiyah selalu menjadi bagian yang tak luput untuk dibahas.
Dengan segala kesesatan dan penyimpangannya, Syi’ah Zaidiyah dinyatakan sebagai sebuah sekte yang paling dekat dengan Ahlu Sunnah. Hal ini dikarenakan mereka tidak bersikap ekstrim sebagaimana kelompok Syi’ah lainnya. Namun apakah ini berlaku untuk seterusnya..?
Syi’ah Zaidiyah dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin. Ali Zainal Abidin yang merupakan ayahandanya termasuk sosok yang cinta kepada para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhum. Bahkan beliau menilai kalangan yang senantiasa mencaci maki para sahabat merupakan kalangan yang melecehkan Islam dan bukan bagian dari Islam.
Pemahaman ayahnya tersebut rupanya diikuti oleh anaknya, Zaid bin Ali. Zaid bin Ali Zainal Abidin merupakan sosok yang ‘alim, taqwa, pemberani, senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah.
Karena sikapnya yang mengikuti jejak langkah ayahnya dalam mencintai para sahabat inilah yang kemudian beliau dikhianati dan ditinggalkan oleh pengikutnya. Hingga yang tersisa dengan beliau hanya tinggal 500 orang. Sebagian kalangan menyatakan bahwa sempat terjadi interaksi antara Zaid dengan Washil bin ‘Atha seorang tokoh Mu’tazilah. Sehingga dalam beberapa hal Zaid terpengaruh oleh pemikiran Washil.
Ahmad bin ‘Isya bin Zaid yang merupakan cucu dari Zaid tinggal di Irak dan banyak berinteraksi dengan murid-murid Abu Hanifah. Dengan demikian ada kalangan yang menyimpulkan bahwa dari sisi akidah Syi’ah Zaidiyah ada kemiripan dengan Mu’tazilah dan dalam masalah fikih lebih dekat kepada madzhab Hanafi.

Lanjutkan membaca Syiah Zaidiyah Dahulu dan Kini, Masihkah Bagian Ahlu Sunnah..?

Sejarah Munculnya Syi’ah

Bahaya Aliran Syi’ah

Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara.(Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi)

Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm)

Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.

Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya. Lanjutkan membaca Sejarah Munculnya Syi’ah