Syiah Zaidiyah Dahulu dan Kini, Masihkah Bagian Ahlu Sunnah..?

Penjelasan Ulama Mengenai Syi’ah Zaidiyah
Penjelasan Ulama Mengenai Syi’ah Zaidiyah
Belakangan, ketika orang membahas kesesatan syiah. Syiah Zaidiyah selalu menjadi bagian yang tak luput untuk dibahas.
Dengan segala kesesatan dan penyimpangannya, Syi’ah Zaidiyah dinyatakan sebagai sebuah sekte yang paling dekat dengan Ahlu Sunnah. Hal ini dikarenakan mereka tidak bersikap ekstrim sebagaimana kelompok Syi’ah lainnya. Namun apakah ini berlaku untuk seterusnya..?
Syi’ah Zaidiyah dinisbatkan kepada Zaid bin Ali Zainal Abidin. Ali Zainal Abidin yang merupakan ayahandanya termasuk sosok yang cinta kepada para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu anhum. Bahkan beliau menilai kalangan yang senantiasa mencaci maki para sahabat merupakan kalangan yang melecehkan Islam dan bukan bagian dari Islam.
Pemahaman ayahnya tersebut rupanya diikuti oleh anaknya, Zaid bin Ali. Zaid bin Ali Zainal Abidin merupakan sosok yang ‘alim, taqwa, pemberani, senantiasa berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah.
Karena sikapnya yang mengikuti jejak langkah ayahnya dalam mencintai para sahabat inilah yang kemudian beliau dikhianati dan ditinggalkan oleh pengikutnya. Hingga yang tersisa dengan beliau hanya tinggal 500 orang. Sebagian kalangan menyatakan bahwa sempat terjadi interaksi antara Zaid dengan Washil bin ‘Atha seorang tokoh Mu’tazilah. Sehingga dalam beberapa hal Zaid terpengaruh oleh pemikiran Washil.
Ahmad bin ‘Isya bin Zaid yang merupakan cucu dari Zaid tinggal di Irak dan banyak berinteraksi dengan murid-murid Abu Hanifah. Dengan demikian ada kalangan yang menyimpulkan bahwa dari sisi akidah Syi’ah Zaidiyah ada kemiripan dengan Mu’tazilah dan dalam masalah fikih lebih dekat kepada madzhab Hanafi.

Lanjutkan membaca Syiah Zaidiyah Dahulu dan Kini, Masihkah Bagian Ahlu Sunnah..?

Aliansi Nasional Anti Syi’ah

Liputan Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syi’ah di Bandung pada tanggal 20 April 2014 bertempat di mesjid Al Fajr Cijagra kota Bandung yang dihadiri oleh Ribuan muslimin dan muslimat dari masyarakat, alim ulama, DKM Mesjid serta tokoh organisasi seluruh Indonesia yang mendeklarasikan sikap kepada aliran agama baru syi’ah yang telah meresahkan masyarakat.

Isi deklarasi tersebut adalah :

1. Menjadikan Lembaga Aliansi Nasional Anti Syi’ah sebagai wadah dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
2. Memaksimalkan upaya preventif, antisipatif, serta proaktif membela dan melindungi umat dari berbagai upaya penyesatan akidah dan syariat yang dilakukan kelompok Syiah di Indonesia.
3. Menjalin ukhuwah islamiyah dengan berbagai organisasi dan gerakan dakwah di Indonesia untuk mewaspadai, menghambat, dan mencegah pengembangan ajaran Syiah.
4. Mendesak pemerintah agar segera melarang penyebaran paham dan ajaran Syiah, serta mencabut izin seluruh organisasi, yayasan, dan lembaga yang terkait dengan ajaran Syiah di seluruh Indonesia

Syiah bukan Islam..!!

Mari dukung Aliansi Nasional Anti Syi’ah untuk menghalau syi’ah dari Indonesia.

Dihadiri diantaranya oleh :

1. Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dari Jawa Tengah, K.H. Abdul Hamid Baidlowi.
2. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam atau LPPI Makassar, Muhammad Said Abdus Shamad.
3. Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Prof. DR. K.H. Muslim Ibrahim.
4. Ketua Umum Persatuan Islam, Prof. DR. K.H. Maman Abdurrahman.
5. Ketua MUI Balikpapan, Drs. K.H. Abdul Muis Abdullah.
6. Ketua MUI Pusat, K.H Ahmad Cholil Ridwan, Lc.
7. Ketua Front Anti Aliran Sesat (FAAS) Jawa Timur, Habib Al Kaff Bin Zein Al Kaff.
8. Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Bangkalan Jawa Timur, Drs. K.H. M. Nuruddin A. Rahman, SH.
9. Sekjen Forum Ummat Islam (FUI), K.H. Muhammad Al Khaththath
10. Ketua Islamic Centre Al Islam Bekasi, Ust. Farid Ahmad Okbah, MA.
11. Ketua MUI Pusat bidang hukum dan perundang-undangan, Prof. DR. Muhammad Baharun.
12. Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), K.H. Athin Ali M. Da’i, Lc.,MA.

Cara Pandang NU Terhadap Syi’ah

9da11-490x354xhasyim-asyari-pagespeed-ic-rqwiv2vbfj-webp
Kyai Hasyim Asy’ari

Kader NU dan Wakil Sekretaris MIUMI Jatim

Sejak didirikan pertama kali pada 31 Januari 1926, NU melalui pendirinya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham Syi’ah ini. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan hati-hati menyikapi fenomena perpecahan akidah.

Meski pada masa itu aliran Syi’ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi Hasyim Asya’ari memberi peringatan kesesatan Syi’ah melalui berbagai karyanya. Antara lain; “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”.

Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” memberi peringatan kepada warga nahdliyyin agar tidak mengikuti paham Syi’ah.

Menurutnya, madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah bukan madzhab sah. Madzhab yang sah untuk diikuti adalah Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9).

Lanjutkan membaca Cara Pandang NU Terhadap Syi’ah

Sejarah Munculnya Syi’ah

Bahaya Aliran Syi’ah

Secara fisik, sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam terutama dari sisi akidah, perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga tidak mungkin disatukan.

Syiah menurut etimologi bahasa arab bermakna pembela dan pengikut seseorang, selain itu juga bermakna setiap kaum yang berkumpul diatas suatu perkara.(Tahdzibul Lughah, 3/61 karya Azhari dan Taajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi)

Adapun menurut terminologi syariat, syiah bermakna mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh sahabat dan lebih berhak untuk menjadi khalifah kaum muslimin, begitu pula sepeninggal beliau (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal karya Ibnu Hazm)

Syiah mulai muncul setelah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, masa-masa awal kekhalifahan Utsman yaitu pada masa tahun-tahun awal jabatannya, Umat islam bersatu, tidak ada perselisihan. Kemudian pada akhir kekhalifahan Utsman terjadilah berbagai peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan, muncullah kelompok pembuat fitnah dan kezhaliman, mereka membunuh Utsman, sehingga setelah itu umat islam pun berpecah-belah.

Pada masa kekhalifahan Ali juga muncul golongan syiah akan tetapi mereka menyembunyikan pemahaman mereka, mereka tidak menampakkannya kepada Ali dan para pengikutnya. Lanjutkan membaca Sejarah Munculnya Syi’ah

Mewaspadai Dan Membentengi Diri Beserta Keluarga Dari Bahaya Sesat Aliran Syi'ah